Branding Adalah Sebuah Omong Kosong Atau Peluang?

BRANDING ADALAH SEBUAH OMONG KOSONG ATAU PELUANG?

branding adalah
branding adalah peluang, by mr.nardi hidayat

apa yang anda rasakan saat melihat brand mercedez bens diatas, saya yakin jawabannya beragam, namun rata-rata akan menjawab : mewah, elegan, nyaman, eksklusif, dll

Menurut Wikipedia

Branding (Pemerekan) berasal dari kata dasar ‘merek‘ (brand). American Marketing Association (AMA) mendefinisikan merek sebagai “a name, term, sign, symbol, or design, or a combination of them, intended to identify the goods and services of one seller or group of sellers and to differentiate them from those of competitors” (Kottler, 2000: 404)

 

Lalu branding itu apa?

Hahaha

 

Adalagi yang menyebutkan bahwa  Branding itu adalah persepsi orang terhadap imej.

Akan muncul lagi pertanyaan berikutnya, trus Branding itu apa ya? Terus bedanya dengan marketing apa ya?

Sederhananya branding adalah segala upaya untuk menunjukan kepada konsumen atau khalayak tentang sebuah bisnis atau usaha. Sementara marketing adalah upaya untuk memastikan si brand tersebut laku atau diterima masyarakat.

Artinya branding itu luas termasuk diantaranya : packaging, logo, desain grafis, penempatan grafis, bahkan reklame termasuk dari aktifitas branding.

Sepertinya masih belum paham deh.

Intinya branding adalah proses yang memastikan bahwa konsumen atau calon konsumen mampu mengenali sebuah bisnis, sesuai dengan niat dari si pemilik bisnis.

 

Sebagai contoh adalah :

Aqua dengan “Ada AQUA”nya

Kacang Garuda dengan “Jangan nonton bola tanpa kacang garuda”nya

Tambah lagi,

Kak seto dengan dunia anak-anaknya, sekalipun sekarang sedang bermunculan banyak brand baru tentang beliau seperti sleding dll.

Ini termasuk jargon brand yang dibuat oleh pemilik bisnis (aqua,garuda food, dan bahkan kak seto) agar khalayak akhirnya memahami satu atau lebih karakteristik dari manfaat produk atau pribadi mereka.

“Sudah ya, saya Lelah membahas branding adalah melulu. Kalau masih belum paham makan kacang garuda, minum aqua, dan segera tanya kak seto”

 

APAKAH BRANDING INI ADA MANFAATNYA

Pasti bermanfaat, kalau tidak bermanfaat, tidak mungkin para pemilik brand terus menerus menggelontorkan rupiah untuk kembali mengingatkan masyarakat akan brand mereka. Sekalipun kalau secara teori brand ini memiliki fungsi jangka Panjang namun pada beberapa kasus ternyata banyak perusahaan mendulang keuntungan jangka pendek dari keberhasilan mereka membranding perusahaan mereka.

Kita ambil contoh : Penggantian Jogja “Never Ending Asia” Menjadi Jogja “Istimewa”. Contoh ini jelas-jelas adalah rebranding dari sebuah brand yang terlanjur melekat selama kurang lebih 13 tahun.

Penyusunan kata “Istimewa” ini tidak main-main dikerjakan oleh tim 11 yang antara lain Sri Sultan Hamengku Buwono sendiri, Kemudian ada pakar marketing Hermawan Kertajaya dari Mark Plus, lalu mantan Walikota Yogyakarta Herry Zudianto, anggota Tim 11 Butet Kertaredjasa, Sumbo Tinarbuko, Arif “Petak Umpet”, Noor Arief “Dagadu”, Ong Hari Wahyu, Marzuki Jogja Hip Hop Foundation serta Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto. Sebegitu banyaknya orang dengan latar belakang dan keahlian berbeda yang terlibat didalam penyusunan satu kata , yaa…hanya menyusun satu kata yaitu “Istimewa”.

Efeknya jelas wow, jogja istimewa terdengar mudah untuk disebutkan dan diingat. Walhasil saat ini jogja menjadi salah satu destinasi wisata yang diperhitungkan setelah bali.

Lebih dahsyatnya lagi, brand ini ternyata tidak hanya menjadi magnet bagi pihak luar namun juga mampu menjadi semacam roh bagi warga jogja sendiri dan mampu membakar kecintaan dan semangat dari warganya untuk berbuat lebih bagi kotanya.

 

4 PILAR BRAND BERHASIL

  1. Saat brand belum matang, jangan sekali-kali menjadi eksklusif. “Ngejablay” sekalian malah tidak apa apa.

Saat Ini adalah zaman abundant, dimana segala sesuatunya berlimpah ruah dibagikan secara bebas dimanapun. Tidak ada satupun orang yang bisa mengatakan dia adalah penguasa mutlak atas sesuatu hal.

  1. Kalau brand anda punya kemiripan (memang mencontek) dengan brand lain, pastikan anda punya kelebihan. Minimal lebih murah.

Bayangkan apa yang terjadi saat anda adalah brand yang biasa saja, merebranding dengan brand yang mirip dengan yang lain, tapi lebih mahal, feelnya biasa saja, dan tidak ada unggul-unggulnya. Boro-boro laku dijadikan pembanding malah yang ada.

  1. Brand itu matang saat target anda mengerti dan memahami bisnis atau produk Anda, seperti yang anda inginkan.

 

Sekali lagi saya utarakan brand adalah urusan jangka panjang, bukan hanya permasalahan besok makan apa atau laku atau tidak, bisa jadi saat membangun brand, penjualan anda justru menurun, namun percayalah tidak ada yang namanya barang tidak laku, yang ada hanya belum bertemu dengan peminat yang tepat.

Saat brand anda mulai didengar dan dikenal public, justru publiklah yang akan menilai brand ini pas atau tidak untuk dia. Saat ia merasa pas maka harga bukan lagi permasalahan.

 

MEMBENTUK BRAND

Ada banyak proses dalam pembuatan brand, namun apabila kita ambil suatu benang merah maka yang pertama adalah tentukan dahulu anda mau dipandang sebagai apa atau mudahnya Anda ingin orang lain melihat produk atau bisnis anda itu seperti apa.

Apabila anda ingin dilihat premium maka promosikan brand anda premium, apabila ingin dilihat merakyat maka gunakan hal yang sifatnya merakyat hindari hal-hal premium.

Paling menonjol untuk persoalan diferensiasi brand adalah produsen rokok. Tentunya anda pernah melihat iklan dari Djarum: Djarum Super, LA LIGHT dan Djarum 76  yang diiklankan dengan cara yang berbeda, set scene yang berbeda untuk menimbulkan makna, kesan dan penerimaan yang berbeda. Akhirnya juga terlihat pengguna setiap jenis rokok tersebut juga adalah pribadi dari kalangan yang berbeda pula.

Apakah yang merakyat lebih murah biaya brandingnya? Belum tentu !! Semua tergantung kebutuhan. Bisa jadi yang merakyat karena mengincar jauh lebih banyak orang membutuhkan biaya dan atau effort yang lebih besar.

 

BISAKAH MEMBENTUK BRAND TANPA BIAYA

Bisa jadi, namun butuh keberuntungan untuk itu.

Branding adalah seni, dan karena itu sulit kita menerka bagaimana bisa keberuntungan datang kepada kita. Saya mencatat di indonesia banyak brand yang terangkat dan terbentuk secara tidak sengaja, karena viralnya sesuatu hal, dll. Namun, mohon dicatat, sekalipun tanpa biaya, usaha (effort) tetap dibutuhkan.

branding adalah
nippon paint

Kita ambil contoh yang lagi trend belakangan ini adalah saat nippon paint dijadikan meme untuk seruan yang dilakukan T’Chala di Avenger : Infinity War.

Saya yakin sekali nippon paint tidak membayar sepeserpun untuk itu, karena sebenarnya yang diserukan oleh T’chala bukanlah nippon paint namun Yibambe.

Apapun itu nippon paint mendapatkan “bonus” brand awareness yang luar biasa dari Tchala. Hebatnya sebelumnya saya  pernah membaca statement dari CEO Nippon Paint Jon Tan bahwasanya dia bersyukur karena akhirnya setelah iklan bertahun-tahun brand nippon paint ternyata telah melekat di hati masyarakat Indonesia.

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah Nippon Paint tersebut : “Bahwasanya di dunia ini tidak ada hal yang 100% terjadi karena ketidaksengajaan, segala sesuatunya membutuhkan syarat dan setiap syarat pasti memerlukan usaha, usaha yang sudah barang tentu akan sebanding dengan hasilnya”

 

LOVE YOUR BRAND

Satu cara lagi untuk membuat brand anda meningkat secara organic dan murah adalah dengan mencintainya. Menggunakan brand anda untuk kehidupan sehari-hari, mengisyaratkan bahwa memang brand anda adalah yang terbaik. Ini contoh sederhana yang harus kita terus tanamkan.

Orang tidak akan percaya pada brand yang kita promosikan, kalau kita saja yang menjual atau memproduksi enggan untuk memakainya.

 

Salam Branding

Nardi Hidayat.

 

 

 

 

 

 

 

2 Replies to “Branding Adalah Sebuah Omong Kosong Atau Peluang?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *